Impresi Awal Huawei P30 Pro, Konsentrasi Pada Peningkatan Kamera

Impresi Awal Huawei P30 Pro, Konsentrasi Pada Peningkatan Kamera

Bahagia sekali Pulsa berpeluang mereview produk yang menarik ini. Sejak mula diperkenalkan pada 26 Maret 2019, ponsel ini unik perhatian tidak hanya pada pengaplikasian prisma pada lensa kamera guna mendapatkan gambar zoom yang lebih baik, tapi pun tentang motivasi Huawei dalam mengolah pendekatan di sisi kamera ponsel. Apa saja evolusi yang diangkut kamera Huawei P30 Pro? Pastinya tersebut yang menciptakan kami penasaran.

Tulisan ini sekaligus menjadi artikel hands on, mengulas impresi kami di menit-menit mula pemakaian produk ini.Nantikan review mendalamnya di sejumlah hari ke depan.

Ubah Tampilan PadaDesain Back Cover

Jika di produk-produk sebelumnya Huawei sempat memakai desain gradasi dua warnayang terinspirasi oleh gejala alam aurora, kemudian ada desain mengalir atau flowing design di Mate 20 Pro, maka kali ini Huawei mengupayakan memberi pendekatan berbeda.
Masih tetap terinspirasi oleh warna-warna yang dipersembahkan oleh alam, Huawei P30 Pro mengupayakan menggali lebih tidak sedikit warna gradasi. Kali ini sumber inspirasinya ialah Salt Flats atau dataran garam padat yang kerap menimbulkan efek cermin dengan pewarnaan bertolak belakang tergantung dari masa-masa dan musim yang berlangsung.
P30 pro menawarkan 3 pewarnaan yang menarik. Breathing Crystal, laksana yang akan kami review kali ini. Menggambarkan efek warna putih langit yang terpantul pada dataran luas dengan semburat warna biru di tengah sebagai kaki langit atau horison. Lalu terdapat Amber Sunrise yang ingin merah ke arah oranye, mencerminkan gradasi antara langit pagi dan pantulannya di ketika matahari terbit, pun ada warna Aurora dengan gardasi biru ke hijau.
Intinya, Huawei kembali hendak menegaskan kesan anggun lewat P30 Pro, menjadikannya produk yang rapi di sisi teknologi, namun pun tetap unik di sisi desain.

Layar AMOLED Hingga ke Tepian

Hal beda yang langsung dapat kita rasakan ketika memegang ponsel ini guna kesatu kali ialah layarnya yang tajam. Meski dengan resolusi khas seri P, yaitu 2340 x 1080 pixel atau masuk dalam kelompok FHD+ dengan rasio layar 19.5:9, layar ponsel tertampil rapi berkat pemakaian jenis layar OLED yang menyokong HDR. Penggunaan jenis layar ini pun membuatnya tampil cantik secara desain sebab memanfaatkan sisi ponsel dengan maksimal. Dengan demikian, bukan lagi ada bezel di unsur samping kiri dan kanan layar. Bahkan pada unsur ini kadang bisa tersentuh secara tidak sengaja ketika kita memegang unsur tepi ponsel ini.

Tapi terdapat teknologi beda yang unik di balik dalil pemakaian layar OLED ini. Selain mencantumkan sensor sidik jari di bawah layar, ponsel ini pun tidak lagi meluangkan speaker earpiece guna bertelepon. Sebagai gantinya Huawei memakai Huawei Acoustic Display Technology, dimana getaran suara dialirkan melewati layar mengarah ke ke telinga pemakainya.
Tidak perlu cemas suara lawan bicara akan tersiar dengan gampang oleh orang yang terdapat di sekeliling kita. Teknologi ini tetap bakal mempertahanakan privasi pembicaraan Anda, melulu untuk kita sendiri, layaknya memakai earpiece tradisional.

Untuk itu, maka kamera depan dapat dimuat dalam satu bentukan notch yang kecil bak cucuran embun (dew drop) tanpa butuh lagi ditemani oleh earpiece.

Dua Biometrik Andalan

Bergeser ke unsur fitur pengaman, Huawei P30 Pro memakai 2 pengaman biometrik sekaligus. Sampai sini pasti Anda beranggapan tidak terdapat yang menarik. Tapi tidak boleh salah, laksana pendahulunya, Mate 20 Pro, ponsel ini pun sudah dibekali sensor sidik jari di bawah layar. Dan performanya sudah dapat dibilang mumpuni. Ada perbaikan dari penerapan di produk sebelumnya.
Bersama dengan in-display fingerprint sensor, pun ada face detection. Anda dapat memilih behavior nya apakah langsung membuka lock screen ke home screen, atau melulu membuka kuncinya saja, sedangkan untuk ke homescreen kita masih mesti menggeser klayar ke atas.

Bila dua-duanya diaktifkan, pastikan kita memilih face detection guna langsung membuka layar. Kalau tidak nanti ada tidak banyak rancu.

EMUI 9 Yang Tetap Potensial

Sebagai custom UI, EMUI bukan anak kemarin sore. Pengembangannya terus berkelanjutan dan menyerahkan sejumlah fitur-fitur anyar di masing-masing versinya. Kali ini bareng dengan UI bawaan Google Pie, sejumlah faedah lawas dan baru yang anda butuhkan sudah dapat kita gunakan. Terutama di sisi kontroling memakai gesture, multiscreen, one hand mode dan sebagainya.

Tapi, andai Anda membelinya sekarang, hari ini juga, maka Anda barangkali harus menunggu sejumlah saat guna mendapatkan update baru lagi yang membawa tidak sedikit fitur menarik, di antaranya di sisi kamera, sinkronisasi dengan perankat dan perkakas beda dan sebagainya.

Tidak tidak sedikit yang dapat dikeluhkan dari EMUI anyar ini, kecuali pada tampilannya yang mungkin untuk sebagian orang dirasakan terlalu kaku. Itupun tidak memerlukan waktu terlampau lama guna terbiasa.

Chipset Kirin Teranyar

Seperti sudah dilafalkan di dalam judul dan paragraf kesatu artikel ini, layaknya seri P huawei lain, P30 Pro lebih ingin berkonsentrasi pada kamera. Tapi bukan berarti hal performa ditinggalkan.

Huawei P30 memakai chipset sama yang dipakai Mate 20 Pro. Yaitu Kirin 980. Memadukan CPU, GPU dan NPU guna efisiensi daya yang lebih baik. Ponsel ini di atas kertas mempunyai performa yang buas. Ditambah dengan teknologi penghantar panas yang lebih baik, maka ponsel ini terasa lebih adem ketimbang Mate 20 Pro ketika dipakai ngegame PUBG.

Mengingat kedua ponsel ini telah sama-sama memakai GPU Turbo, maka ademnya P30 Pro adalahhasil dari pemakaian rancangan Huawei SuperCool, yang memadukan lapisan graphene, grafit dan desain pipa penghantar panas untuk menambah performa ponsel.

Produk yang terdapat di meja review PULSA ini adalahvarian yang bisa jadi besar bakal diluncurkan di Indoneisa tanggal 12 April mendatang. Yakni produk dengan RAM 8 GB dan penyimpanan internal 256 GB.
Kami sempat menguji dengan beberapa software benchmarking dan hasilnya relatif lebih rendah dari Mate 20 Pro. Meskipun tidak terlampau signifikan. Artinya kinerja dua-duanya kami percaya sedang di satu level yang sama. Hanya saja fakta ini menciptakan kami lebih yakin bahwa P30 Pro memang ingin lebih berkonsentrasi pada pengembangan kamera.

Banyak Perubahan di Kamera

Nah unsur kamera ini yang sangat seru guna dikupas. Seperti yang sudah kita ketahui, semenjak P9, Huawei berkolaborasi dengan pabrikan kamera Leica dalam mengembangkan sensor dan algoritma pemungutan gambarnya. Dan masing-masing produk baru pasti membawa peningkatan fitur, tak terkecuali di Huawei P30 Pro ini.
Perubahan kesatu, yang terlihat ialah hadirnya 4 kamera di unsur belakang, 3 tersusun memanjang dari atas ke bawah, dan satu lagi ditaruh di bawah flash. Satu kamera yang menduduki titik sangat atas adalahkamera 20MP ultrawide angle (16 mm) f2.2. Sementara di bawahnya terdapat 40MP wideangle lens (27mm) f1.6.

Sedangkan dua kamera lain, yaitu yang sangat bawah di kumpulan yang tersusun memanjang ini, ialah kamera baru yang memakai teknologi periskop. Desain laksana ini telah diperkenalkan kesatu kali semenjak MWC 2017 kemudian oleh vendor pesaing. Sebagai penyelesaian untuk menemukan gambar yang solid menggunakan sejumlah tumpuk lensa yang tersusun menyamping, sampai-sampai tidak menciptakan ponsel jadi tampak gendut. Lalu untuk menciduk gambar sampai sampai ke sensor melewati tumpukan lensa tersebut, maka mereka memakai kaca prisma yang bakal membelokkan cahaya ke arah samping, dimana tumpukan lensa dan sensor berada.

Dengan semakin tidak sedikit lensa yang tercebur dalam pemungutan gambar melewati kamera ini, maka saya dan anda bisa melakukan perbesaran gambar yang setara dengan perbesaran optical. Dimana kualitas potret dapat dijaga meski merasakan perbesaran. Dalam urusan ini Huawei P30 Pro dapat menangkap gambar dengan perbesaran 5X secara optical, 10X hybrid dan sampai 50 X secara digital.
Lalu yang terakhir terdapat kamera ToF Depth sensing, singkatan dari Time of Flight. Merupakan sensor kamera untuk memisahkan jarak antara obyek utama dengan latar belakang. Secara teori, potret portrait yang dapat dihasilkan oleh ponsel ini akan menunjukkan gambar bokeh yang lebih halus tanpa tampak artifisial.

Percobaan yang kami lakukan lumayan untuk menjelaskan makna penting hadirnya kamera ini dalam menambah kualiatas potret portrait di Huawei seri P.
Lalu masih di urusan pemungutan gambar, secara spesifikasi kamera P30 Pro telah bisa tidak sedikit bicara soal kemampuannya menciduk cahaya. Bukaan kamera utamanya ialah f/1.6. Tapi tersebut saja belum cukup, Huawei P30 Pro pun adalahproduk kesatu Huawei yang memakai sensor RYYB (red yellow yellow blue) menggantikan sensor RGGB (red green green blue).

Mengganti filter berwarna hijau dengan kuning, bakal meningkatkan keterampilan sensor dalam menciduk lebih tidak sedikit warna hijau dan merah ke dalam spektrum warna yang terlihat. Ini akan menambah kapasitas cahya yang masuk, sampai 40 % lebih banyak.

Kamera Huawei P30 Pro sekarang mempunyai ISO yang besar, yaitu 409.600 (empat ratus sembilan ribu enam ratus).

Berbagi Daya Secara Nirkabel

Kehadiran keterampilan wireless reverse charging di Huawei Mate Pro, meskipun tadinya dianggap nge-troll, namun dialami manfaatnya oleh sejumlah pemakai yang kami temui. Mungkin atas dasar yang sama, maka fitur ini pulang dihadirkan di produk P30 Pro.

Karena kapasitas baterai P30 Pro sendiri telah mumpuni, yaitu di angka 4200 mAh dengan sokongan fast charging (huawei super charge), maka membagi daya dengan sesama pemakai ponsel yang menyokong pengisian daya nirkabel tidak bakal menjadi masalah.

Demikian artikel impresi mula PULSA tentang Huawei P30 Pro ini. Pengen tahun harga Huawei P30 Pro sah dan bagaimana kamera huawei P30 Pro ini lebih lanjut? Nantikan reviewnya secara lebih mendalam di sejumlah hari mendatang.